MASJID RAYA SUMATERA BARAT

Bismillahirrahmanirrahim

Ketika perbaikan Ka’bah, bangsa Quraisy berselisih tentang siapa yang mendapatkan kehormatan untuk meletakkan Hajar Aswad ke tempatnya semula. Mereka berselisih bahkan hampir menyebabkan terjadinya pertumpahan darah. Salah saorang dari mereka memberikan saran agar menyerahkan keputusan kepada orang yang pertama kali lewat pintu masjid.

Allah subhanahu wa ta’ala kemudian menakdirkan bahwa orang yang pertama kali lewat pintu masjid adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah kemudian menyarankan suatu jalan keluar yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh mereka.

Beliau mengambil selembar selendang dan meletakkan Hajar Aswad di tengah-tengah selendang tersebut. Beliau meminta seluruh pemuka kabilah yang berselisih untuk memegang ujung-ujung selendang itu dan mengangkat secara bersama-sama. Setelah mendekati tempatnya, Rasulullah kemudian meletakkan Hajar Aswad tersebut ketempatnya.

Terinsparasi dengan sejarah tersebut, sang arsitekt Masjid Raya Sumatera Barat membuat bentuk atap bangunan berbentuk bentangan kain yang digunakan untuk mengusung batu Hajar Aswad sebagaiman sejarah di atas. Tidak hanya itu, mihrab-pun menyerupai Hajar Aswad.
Di depan Masjid Raya Sumatera Barat


Lokasi

Masjid Raya Sumatera Barat terletak di persimpangan antara Jalan Khatib Sulaiman dan Jalan KH Ahmad Dahlan, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang. Lokasi ini sangat strategis yang berada di jalan utama jantung kota. Lokasinya tidak jauh dari Kantor Gubernur dan perkantoran pemerintahan lainnya.

Sejarah

Ide pembangunan masjid ini selain merupakan keinginan masyarakat minang, juga didorong oleh Wakil Presiden saat itu yaitu Yusuf Kalla. Peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan dilakukan pada 21 Desember 2007 oleh Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi.

Pengerjaan pembangunan masjid dilakukan secara bertahap dengan menggunakan anggaran dari APBD Provinsi, sumbangan masyarakat, APBN dan bantuan dari provinsi Jawa Barat dan Provinsi Papua.

Pada tahap pertama yaitu pembangunan struktur bangunan yang dimulai tahun 2008 sampai tahun 2010. Tahap kedua dilanjutkan dengan pengerjaan ruang salat dan tempat wudu pada 2010. Tahap ketiga pemasangan keramik lantai dan eksterior masjid. Tahap keempat yang dimulai pada pertengahan 2012, pengerjaan menyelesaikan ramp, teras terbuka yang melandai ke jalan. Tahun 2014, Pemerintah Turki mengirimkan bantuan karpet permadani untuk mendukung penyelenggaran ibadah seiring kerja sama yang dibangun oleh pemerintah provinsi. Salat Jumat perdana menandai pembukaan Masjid Raya Sumatera Barat untuk salat rutin pada 7 Februari 2014.

Pada tahun 2014, dilakukan pembangunan tahap kelima, meliputi pengerjaan interior kubah,penyelesaian ramp. Memasuki pertengahan 2016, penyelesaian fasad dan lantai masjid dan pembangunan pekarangan. Pada tahap kedelapan, kelanjutan pembangunan dibiayai melalui penerimaan dana bantuan keuangan khusus dari dua provinsi yakni Jawa Barat dan Papua digunakan untuk penyelesaian lantai dasar masjid yang akan dijadikan ruangan pertemuan, ruang penjagaan, pustaka, instansi listrik, dan berbagai lainnya.

Arsitektur

Arsitektur Masjid Raya Sumatera Barat memakai rancangan yang dikerjakan oleh arsitek Rizal Muslimin, pemenang sayembara desain yang diikuti oleh 323 arsitek dari berbagai negara. Penjurian diketuai oleh sastrawan Wisran Hadi.

Sebagaimana disampaikan di atas, atap bangunan menggambarkan bentuk bentangan kain yang digunakan untuk mengusung batu Hajar Aswad. Namun demikian dapat juga dilihat seperti rumah adat minang yaitu berbentuk 'gonjong'. Hal ini mencerminkan Masyarakat Sumatera Barat terkenal dengan pepatah 'Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah', yang artinya adat bersendikan kepada agama, dan agama bersendikan kitabullah (Al-Quran).

Bentuk atap berbentuk kain yang digunakan untuk
mengusung batu Hajar Aswad

Bentuk arsitektur masjid yang unik dan kaya makna

Bagian ujung atap berbentuk gonjong khas rumah tradisional minang

Dinding eksterior Masjid Raya Sumatera Barat terdapat ukiran yang menampilkan kaligrafi dan motif kain songket khas Minangkabau. Terdapat ukiran segitiga yang memiliki filosofi yaitu tiga tungku sajarangan, tiga tali sapilin (ulama, ninik mamak, cadiak pandai) yang harus memegang teguh rukun iman sebagai pengikat seluruh elemen yang ada ditengah-tengah masyarakat. Di samping itu terdapat kaligrafi Al Quran yang tersusun rapi pada “dinding kain songket” Masjid Raya Padang.

Dinding motif kain songket khas Minangkabau yang penuh makna 

Menurut Ibu Venisia Jambola, pengurus Bundo Kaduang, motif songket yang digunakan bernama 'pucuak rabuang". Ini bermakna anjuran kepada semua orang untuk selalu berguna bagi semua.  Ini sesuai dengan pepatah "Nan bak pucuak rabuang, ketek baguno gadang tapakai". Pucuak Rabuang simbul kehidupan dinamis ketika kecil membantu orang tua serta menuntut ilmu, setelah besar berguna bagi semua dan selalu menunduk bermakna tidak sombong.

Dinding masjid sebelah dalam dibatasi oleh dinding berbentuk bilah-bilah yang tembus cahaya dan udara dari terhubung dengan teras terbuka di sekelilingnya.

Dengan demikian masjid ini tetap sejuk dengan sirkulasi udara yang cukup baik dan pada siang hari tidak diperlukan penerangan listrik.

Desain ornamen dinding ini berbentuk segi enam yang melambangkan rukun iman. Segi enam menjadi dasar bagi segi tiga yang mengitari sebagai lambang tungku tigo sajarangan, tali tigo sapilin (ulama, ninik mamak, cadiak pandai). Selain itu terdapat juga segi empat yang melambangkan Tahu Di Nan Ampek.

Desain ornamen dinding ini berbentuk segi enam yang melambangkan rukun iman

Pintu masuk dari teras ke ruangan utama

Teras disekeliling masjid untuk menambah kapasitas masjid

Teras berada di sekeliling masjid

Keunikan masjid raya Sumatera Barat juga terlihat pada bagian interior. Mihrabnya dibuat menyerupai bentuk batu Hajar Aswad. Pada mihrab terdapat podium tempat khotib. Plafon dibuat melengkung dengan rangka-rangka yang ditata sedemikian rupa dan terkesan mewah. Sekilas seperti bentuk payung yang bisa terbuka dan tertutup yang ada di halaman Masjid Nabawi, Medinah. Pada lengkungan plafon bagian depan melengkung sampai mihrab dengan hiasan kaligrafi Asmaul Husna. Plafon didominasi warna putih. Lantai dalam beralaskan karpet permadani merupakan hadiah kiriman dari pemerintah Turki.

Mihrab menyerupai bentuk batu Hajar Aswad

Plafon dibuat melengkung, dengan hiasan kaligrafi Asmaul Husna

Konstruksi rangka atap menggunakan pipa baja. Gaya vertikal beban atap didistribusikan oleh empat kolom beton miring setinggi 47 meter dan dua balok beton lengkung yang mempertemukan kolom beton miring secara diagonal.

Masjid Raya Sumetera Barat juga ramah untuk orang tua dan penyandang cacat. Untuk ke ruangan utama masjid dapat menggunakan ramp yang cukup landai yang ada di depan masjid dan bagian belakang-dalam.

Ramp untuk masuk masjid ramah untuk orang tua dan penyandang cacat

Tempat wudhu terdapat dilantai dasar dan lantai dua kiri kanan belakang masjid sehingga mudah untuk ditemukan. Tempat wudhu terlihat mewah dan bersih.


Tempat wudu terbuka di lantai dasar

Masjid ini dibangun di lahan seluas sekitar 40.000 meter persegi dengan luas bangunan utama kurang dari setengah luas lahan tersebut, yakni sekitar 18.000 meter persegi, sehingga menyisakan halaman yang luas yang digunakan untuk parkir dan taman. Masjid tersebut mampu menampung sekitar 20.000 jamaah. Dengan rincian, lantai dasar masjid menampung 15.000 jemaah serta lantai II dan III sekitar 5.000 jamaah. Pada lantai atas terdapat kolam dengan air mancur. Kolam ini kalau malam hari dilengkapi dengan lampu warna warni.


Kolam yang dilengkapi dengan air mancur dan
lampu warna warni pada malam hari

Di samping untuk kegiatan peribadatan dan kegiatan pendukungnya, masjid ini juga dapat sebagai shelter lokasi evakuasi tsunami dengan memanfaatkan lantai II dan lantai III masjid. Hal ini karena bangunan ini dirancang mampu menahan guncangan gempa mencapai 10 SR.

Tempat parkir yang dapat berfungsi sebagai shelter lokasi evakuasi tsunami

Saat kami mengunjungi, pembangunan masjid ini belum selesai. Masih ada tahapan-tahapan yang belum selesai dikerjakan. Di antaranya adalah pembangunan menara setinggi 99 meter yang berada di empat sisi masjid tersebut. Di samping itu akan dibangun bangunan pendukung serta penataan taman. 

Subhanallah Walhamdulillah Walailahaillallah Wallahuakbar 
astaghfirullah hal adzim
Maha suci bagi Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada satu Tuhan pun yang disembah kecuali Allah, dan Allah maha besar.
Aku mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung

27 Juni 2017


Lihat tulisan sebelumnya

Komentar

  1. MasyaAllah... cantik niaan masjidnya... Semoga bisa kesana ama keluarga semua..

    BalasHapus
  2. Subhanallah Walhamdulillah Walailahaillallah Wallahuakbar
    astaghfirullah hal adzim

    BalasHapus

Posting Komentar