Masjid As Syakirin: Harmoni Spiritual dan Keindahan Arsitektur di Jantung Kuala Lumpur

Kali ini kita akan melihat keindahan spiritual dan keagungan arsitektur Masjid As Syakirin. Terletak di jantung Kuala Lumpur, masjid ini adalah sebuah permata yang memukau dengan arsitektur yang megah dan peran pentingnya sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial.
Bersama kita akan memasuki dunia masjid yang mempesona ini, menjelajahi keindahan arsitektur yang memukau dan merenung pada makna spiritual yang ada di dalamnya. Masjid As Syakirin adalah tempat yang memancarkan kedamaian dan keharmonisan, serta menjadi pusat kehidupan keagamaan bagi umat Muslim di Kuala Lumpur.
Tulisan ini akan menapaki lorong-lorong masjid ini, mengagumi keindahan fasad yang elegan dan ornamen-ornamen yang mempesona. Dari kubah yang indah hingga lengkungan yang melengkung dengan indah, setiap detil arsitektur masjid ini mencerminkan keanggunan dan kebesaran Islam.
Jadi, mari kita rasakan kedamaian spiritual di dalam ruang doa masjid ini dan mengagumi keindahan arsitektur yang memikat. Masjid As Syakirin adalah perpaduan sempurna antara spiritualitas dan seni arsitektur yang mempesona. Bergabunglah dalam perjalanan ini untuk menemukan keharmonisan dan keindahan di dalam Masjid As Syakirin Kuala Lumpur.

Letak

Masjid As Syakirin terletak di Kuala Lumpur, ibu kota Malaysia. Masjid ini terkenal sebagai salah satu masjid yang indah dan megah di Kuala Lumpur. Masjid As Syakirin berada di sekitar area KLCC (Kuala Lumpur City Centre) atau Petronas Twin Towers.

Masjid As Syakirin terletak di Kuala Lumpur, di sekitar Petronas Twin Towers

Sejarah
Masjid As Syakirin, juga dikenal sebagai Masjid Wilayah Persekutuan, adalah salah satu masjid terkenal di Kuala Lumpur, Malaysia. Masjid As Syakirin didirikan sebagai bagian dari pembangunan KLCC (Kuala Lumpur City Centre) yang merupakan proyek pembangunan utama di Kuala Lumpur. Konstruksi masjid dimulai pada tahun 1998 dan pada 26 Agustus 2011, Yang di-Pertuan Agong ke-13 Sultan Mizan Zainal Abidin telah meresmikan masjid ini sebelum Salat Jumaat diadakan. Hadir juga disana Menteri di Departemen Perdana Menteri Datuk Seri Jamil Khir Baharom; Ketua Pengarah Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) Othman Mustapha; Pengarah Jabatan Agama Islam Wilayah Persekutuan (JAWI) Datuk Che Mat Che Ali; dan Mufti Wilayah Persekutuan Datuk Wan Zahidi bin Wan Teh

Masjid ini dirancang oleh seorang arsitek terkenal dari Malaysia, Hijjas Kasturi. Desainnya menggabungkan elemen arsitektur Islam tradisional dengan gaya modern yang mencerminkan kemajuan dan perkembangan Malaysia sebagai negara yang maju.
Nama "As Syakirin" berarti "mereka yang bersyukur" dalam bahasa Arab. Nama ini dipilih untuk menekankan pentingnya rasa syukur dalam kehidupan umat Islam. Masjid As Syakirin juga mengandung arti harfiah dari kata "Syakirin" yang merujuk kepada keluarga Almarhum Duli Yang Maha Mulia Raja Al-Muhtasib Billah Shah, bekas Yang di-Pertuan Agong (Raja) Malaysia.
Masjid As Syakirin tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan keagamaan dan budaya. Seiring berjalannya waktu, Masjid As Syakirin telah menjadi salah satu daya tarik wisata yang populer di Kuala Lumpur. Banyak wisatawan dari dalam dan luar negeri datang untuk mengagumi keindahan arsitektur masjid dan mengikuti kegiatan keagamaan di sana.

Arsitektur Eksterior

Masjid Masjid As Syakirin mempunyai luas sekitar 21 hektare dan terdiri dari dua lantai mampu menampung sebanyak 500 orang. Masjid As Syakirin menampilkan desain eksterior yang memadukan kemegahan modern dengan sentuhan estetika Islam klasik. Dari luar, masjid ini tampak kokoh dan anggun, berdiri di tengah kawasan hijau Taman KLCC yang asri. 

Hal pertama yang akan mencuri pandangan mata adalah kubah utama masjid. Bentuknya menyerupai kubah geodesik dengan permukaan bersegi yang rapi, seakan-akan terbuat dari potongan kristal perak yang disusun sempurna. Di bawah cahaya matahari, kubah ini memantulkan kilauan yang anggun, memberi kesan megah sekaligus futuristik. Kubah ini bukan hanya elemen dekoratif, melainkan simbol penghubung antara bumi dan langit, mengingatkan setiap jamaah pada hubungan spiritual dengan Sang Pencipta

Bagian luar masjid ditopang oleh deretan pilar kokoh dengan bentuk lengkungan khas arsitektur Islam. Pilar-pilar ini tidak hanya berfungsi sebagai penopang bangunan, tetapi juga menciptakan kesan elegan dan ritme visual yang indah. Dari kejauhan, lengkungan ini tampak seperti membuka ruang terbuka yang menyatu dengan lingkungan sekitarnya.
Kanopi Atap Hijau

Salah satu ciri khas arsitektur Islam adalah penggunaan pola-pola geometri. Di Masjid As-Syakirin, pola ini terlihat pada pagar, pintu, dan jendela yang dihiasi dengan bentuk bintang, segi delapan, dan ornamen simetris lainnya. Selain menambah nilai estetika, pola-pola ini juga berfungsi praktis sebagai ventilasi alami yang mengalirkan udara dan menyaring cahaya, menciptakan bayangan yang indah di lantai masjid.

Di sekeliling bangunan utama, terdapat struktur kanopi yang luas dan simetris. Kanopi ini berfungsi sebagai area teduh bagi jemaah sekaligus memperluas ruang luar masjid. Warna hijau yang digunakan memberikan harmoni dengan pepohonan di Taman KLCC, menghadirkan nuansa alami yang menyejukkan.

Masjid As Syakirin didesain menyatu dengan lanskap sekitar. Dari sisi luar, terlihat bagaimana masjid berpadu indah dengan taman hijau, kolam, serta latar belakang gedung pencakar langit Kuala Lumpur. Kontras antara bangunan modern kota dengan desain islami masjid menjadikannya ikon unik yang mudah dikenali.

Halaman luar masjid cukup luas dengan jalan berpola melingkar yang memudahkan akses kendaraan maupun pejalan kaki. Paving yang digunakan serta tata letak lanskap memberikan kesan rapi, ramah, dan terbuka bagi pengunjung yang datang tidak hanya untuk beribadah, tetapi juga untuk sekadar menikmati suasana spiritual di tengah kota.

Meskipun mempertahankan elemen tradisional Islam, Masjid As-Syakirin menonjolkan gaya minimalis dan bersih. Garis-garis tegas, penggunaan material modern seperti baja, kaca, dan beton polos, serta dominasi warna putih dan perak menciptakan suasana yang kontemporer namun tetap sakral. Masjid ini seakan menjadi penyeimbang dari hiruk-pikuk pusat kota, menawarkan ketenangan di tengah gemerlap Kuala Lumpur.

Hal pertama yang akan mencuri pandangan mata adalah kubah utama masjid

Kubah peraknya yang berkilau langsung memikat mata, berpadu indah dengan hamparan hijau Taman KLCC

Untuk memasuki ruang utama masjdi melewati tangga. Tangga pada Masjid As-Syakirin bukan hanya sarana penghubung antar lantai, tetapi juga bagian penting dari keindahan arsitektur masjid ini. Tangga utama berada di tengah lobi, didesain lebar dengan dua jalur simetris yang naik ke arah kiri dan kanan. Anak tangganya menggunakan marmer gelap yang memberi kesan elegan, sementara pegangan tangganya menggunakan material logam berlapis kilap yang menambah kesan modern. Posisi tangga yang berada tepat di tengah menciptakan titik fokus ketika jamaah memasuki area masjid, seolah mengarahkan pandangan menuju ruang shalat di atas.

Sementara itu, tangga samping hadir sebagai jalur alternatif, sekaligus memperkaya detail fasad masjid. Railing tangga samping dihiasi motif geometris Islami yang indah dan konsisten dengan pola pagar di dalam masjid. Di malam hari, pencahayaan lembut membuat pola ini tampak semakin hidup, menghadirkan suasana tenang sekaligus megah. Desain tangga yang terbuka memberikan kesan ramah, memudahkan jamaah atau pengunjung untuk naik ke lantai atas dari sisi luar bangunan tanpa mengganggu alur utama di lobi.

Kedua elemen tangga ini menunjukkan bagaimana arsitektur Masjid As-Syakirin memadukan fungsi dan estetika. Tangga-tangga tersebut tidak hanya mengarahkan langkah jamaah secara fisik, tetapi juga menghadirkan pengalaman ruang yang mengajak pengunjung untuk mempersiapkan diri sebelum memasuki ruang utama ibadah dengan hati yang lebih khusyuk.


Tangga utama dengan desain simetris, dua jalur dipisahkan oleh pegangan tangan stainless steel di bagian tengah. 

Desain Tangga Samping memanfaatkan railing besi berornamen geometris Islami dan simetris, menciptakan ritme visual yang indah ketika dilihat dari bawah. 


Interior
Begitu melangkah masuk ke dalam Masjid As Syakirin, suasana langsung berubah dari hiruk-pikuk kota Kuala Lumpur menjadi sebuah ruang yang tenang, damai, dan penuh kekhusyukan. Masjid ini memang dirancang agar interiornya menghadirkan kesan megah, tetapi tetap sederhana sehingga jamaah bisa merasakan kenyamanan beribadah.
Langit-langit ruang utama tampak tinggi dan terbuka, sehingga sirkulasi udara di dalam masjid terasa segar meskipun dipenuhi jamaah. Hal ini menjadi salah satu keunggulan desain interior masjid ini, modern, fungsional, namun tetap memancarkan nuansa spiritual.
Ruang utama Masjid As-Syakirin menghadirkan suasana megah dan lapang, dengan desain simetris yang terpusat pada mihrab. Dinding kiblat didominasi panel marmer putih dengan motif geometris Islami yang rapi, dipadukan dengan garis vertikal hitam dan sentuhan emas yang memberi aksen elegan.
Jajaran jendela tinggi berbentuk lancip menambahkan kesan anggun sekaligus memperkuat pencahayaan alami di siang hari. Elemen kaca patri dengan warna biru, kuning, dan hijau memberi sentuhan warna yang menyeimbangkan dominasi putih.
Langit-langit masjid berbentuk kubah setengah lingkaran dengan ukiran kaligrafi yang mengelilinginya, menciptakan efek akustik yang baik sehingga suara imam dan muadzin terdengar jelas tanpa memerlukan pengeras suara yang berlebihan.
Lantai ditutup dengan karpet biru bermotif garis shaf, membantu jamaah menjaga kerapian barisan shalat. Ruang ini cukup luas untuk menampung jamaah dalam jumlah besar, dengan mezzanine di sisi kiri yang memungkinkan jamaah wanita atau jamaah tambahan beribadah tanpa mengurangi pandangan ke arah imam.
Keseluruhan interior menciptakan suasana yang khusyuk dan harmonis, sekaligus menampilkan kemegahan arsitektur Islami modern yang memadukan fungsi ibadah, estetika, dan kenyamanan.

Ruang utama menghadirkan suasana megah dan lapang, dengan desain simetris yang terpusat pada mihrab

Kubah pada gambar ini merupakan kubah geodesik yang menjadi ciri khas masjid modern. Bentuknya berupa setengah bola yang ditopang oleh rangka baja berbentuk segitiga-segitiga yang saling terhubung. Struktur seperti ini dikenal kokoh, efisien, dan memungkinkan bentang yang sangat luas tanpa perlu banyak tiang penyangga di bawahnya.

Material kubah tampak menggunakan panel berwarna abu-abu muda yang dipadukan dengan kaca pada beberapa bagian, sehingga menghasilkan kontras yang harmonis dan memungkinkan cahaya alami masuk pada siang hari. Rangka baja yang terekspos justru menjadi elemen estetika, memberi kesan modern dan futuristik.

Di sekeliling pangkal kubah, terdapat ornamen kaligrafi yang melingkar, menambahkan unsur spiritual dan mengingatkan jamaah pada nilai-nilai keislaman. Kaligrafi ini menjadi transisi yang lembut antara dinding vertikal dan kubah melengkung di atasnya.

Kubah ini juga dilengkapi pencahayaan melingkar yang menyorot ke arah atas, menonjolkan bentuk kubah dan menciptakan suasana ruang yang dramatis dan khusyuk, terutama pada malam hari.

Secara keseluruhan, kubah ini menggabungkan:

  • Fungsi struktural (menciptakan ruang luas tanpa tiang penghalang),

  • Fungsi estetika (desain geometri modern, kaligrafi melingkar),

  • Fungsi spiritual (mengangkat pandangan jamaah ke arah langit sebagai simbol kedekatan dengan Sang Pencipta).

Kubah dilengkapi dengan hiasan lampu utama Masjid As-Syakirin, yang menjadi pusat perhatian ketika menatap ke arah kubah. Lampu gantung raksasa ini berbentuk bundar dengan desain kristal berlapis yang berkilauan, menciptakan efek cahaya mewah dan sakral. Bingkainya berwarna emas, memberikan kesan megah sekaligus hangat, selaras dengan kemewahan ruang utama masjid.

Lampu ini tergantung tepat di bawah kubah masjid, yang menggunakan rangka geometris berbentuk segitiga, membentuk pola simetris yang elegan. Pencahayaan di sekitar kubah dipadukan dengan lampu gantung ini untuk memastikan ruang shalat terang, namun tetap menciptakan suasana teduh yang mendukung kekhusyukan ibadah.

Kehadiran lampu gantung besar ini bukan sekadar penerangan, tetapi juga menjadi elemen estetika yang menegaskan identitas arsitektur masjid, gabungan antara kemodernan struktur baja dan keanggunan tradisi Islam.

Kubah terlihat dari dalam menggabungkan Fungsi struktural, Fungsi estetika dan Fungsi spiritual


Lampu gantung besar sebagai penerangan dan elemen estetika
yang menegaskan identitas arsitektur masjid

Kubah didukung dengan Rangka geometris berbentuk segitiga

Mihrab dan Mimbar
Di sisi depan ruang utama terdapat mihrab dan mimbar yang dirancang dengan detail seni Islami. Lengkungan mihrab dan mimbar dihiasi ukiran geometris dengan pola khas Timur Tengah, namun tetap sederhana agar fokus utama jamaah tetap tertuju pada arah kiblat. Di sebelahnya berdiri mimbar dengan desain yang kokoh, biasanya digunakan khatib pada shalat Jumat atau acara keagamaan.
Mihrab dan mimbar ini tidak hanya berfungsi secara praktis, tetapi juga menjadi titik pusat ruangan yang mempertegas identitas masjid sebagai tempat beribadah.
Mihrab, pusat utama dari dinding kiblat di Masjid As-Syakirin. Mihrab ini menampilkan desain arsitektur Islami yang megah dengan lengkungan runcing khas gaya Timur Tengah. Bagian atasnya dihiasi detail bertingkat yang menyerupai muqarnas, yaitu ornamen berlapis yang memberi efek tiga dimensi dan menciptakan bayangan indah ketika terkena cahaya.
Warna putih mendominasi, menciptakan kesan suci dan bersih, sementara kaligrafi emas di atas mihrab menambah nuansa spiritual sekaligus estetika. Pencahayaan hijau dari dalam mihrab memberi efek dramatis dan menandakan arah kiblat dengan jelas bagi jamaah.
Di depan mihrab terdapat kursi dan mimbar kecil tempat imam duduk untuk memimpin doa, khutbah, atau ceramah. Penempatan ini memungkinkan suara terdengar jelas ke seluruh ruangan dan menjaga fokus jamaah pada imam.
Keseluruhan desain mencerminkan perpaduan antara fungsi ibadah, keindahan visual, dan makna simbolis yang mendalam, mengarahkan pandangan jamaah ke arah kiblat dan menghadirkan suasana khusyuk.

Mihrab ini menampilkan desain arsitektur Islami yang megah
dengan lengkungan runcing khas gaya Timur Tengah


Mimbar Masjid As-Syakirin, yaitu tempat imam atau khatib berdiri untuk menyampaikan khutbah dan ceramah. Mimbar ini dirancang dengan gaya arsitektur Islami modern yang elegan. Bentuknya menonjol keluar dari dinding, menyerupai balkon kecil, memberikan posisi yang lebih tinggi agar khatib dapat terlihat jelas oleh seluruh jamaah.

Mimbar dilengkapi lengkungan runcing dengan kaca patri berwarna biru, kuning, dan hijau yang menghadirkan permainan cahaya indah di siang hari. Bingkai mimbar dipoles dengan marmer putih, dipadu garis vertikal hitam dengan ornamen geometris emas yang menegaskan kemegahannya.

Di bawah mimbar terdapat papan pengumuman, sementara di atasnya terpasang jam digital penanda waktu shalat. Penempatan mimbar yang strategis memastikan suara khutbah dapat menjangkau seluruh ruang utama masjid, dengan bantuan sistem audio yang dipasang rapi.

Keseluruhan desain mimbar ini mencerminkan harmoni antara fungsi ibadah dan keindahan visual, menonjolkan peran penting khutbah dalam kehidupan jamaah.


Mimbar dengan desain yang kokoh, digunakan khatib
pada shalat Jumat atau acara keagamaan

Lantai Dasar

Ruang ini memancarkan kesan luas, bersih, dan teratur dengan deretan tiang-tiang kokoh yang membentuk ritme visual yang rapi. Pilar-pilar berbentuk persegi dengan lapisan marmer berwarna putih di bagian atas dan hitam di bagian bawah, memberi kesan kontras elegan sekaligus menambah daya tahan terhadap kelembapan.

Keindahan ruang ini semakin terasa melalui desain lengkungan setengah parabola yang menghubungkan setiap pilar. Lengkungan tersebut menciptakan kesan harmonis, sekaligus memperkuat struktur. Cahaya lampu dinding (wall washer) yang ditempatkan di setiap pertemuan pilar dan lengkungan memantul ke atas, menghasilkan efek pencahayaan lembut yang membuat suasana terasa hangat dan menenangkan.

Lantai yang dilapisi ubin mengkilap menciptakan refleksi cahaya, membuat ruangan terasa lebih luas dan terang. Corak garis horizontal pada lantai mengarahkan pandangan pengunjung ke ujung ruangan, memperkuat kesan simetri dan keteraturan.

Fungsi ruang ini tampak fleksibel, dapat digunakan untuk shalat berjamaah ketika masjid penuh, untuk pengajian, atau kegiatan komunitas. Papan penunjuk arah yang tergantung di langit-langit memudahkan jamaah menuju tempat wudhu atau area lain, menunjukkan perhatian pada kenyamanan dan sirkulasi pengunjung.

Dindingnya didominasi oleh deretan jendela dan pintu kaca dengan bingkai logam perak yang rapi, menciptakan kesan modern namun tetap menyatu dengan elemen klasik masjid. Bentuk jendela dan pintu dibuat melengkung lancip menyerupai lengkung gotik atau “arch” yang identik dengan arsitektur Islam kontemporer, memberi nuansa sakral dan harmonis.

Dominasi warna putih pada dinding dan kolom dipadukan dengan garis-garis hitam horizontal yang memberi kontras elegan sekaligus mempertegas garis arsitektur. Lantai lorong dilapisi marmer dengan motif geometris Islami dalam kombinasi warna hitam, putih, dan abu-abu. Motif ini memperkaya estetika dan menghadirkan suasana mewah namun tetap sederhana.

Pencahayaan dibuat lembut melalui lampu-lampu yang tersembunyi di langit-langit, menciptakan suasana yang tenang bagi jamaah yang melintas. Desain lorong ini mengarahkan pandangan dan langkah jamaah menuju pintu-pintu masuk, memberikan pengalaman transisi dari area luar menuju ruang ibadah dengan kesan penuh penghormatan.

Desain lengkung setengah parabola menghubungkan setiap pilar menciptakan kesan harmonis dan memperkuat struktur 

Jendela dan pintu kaca melengkung lancip dengan bingkai logam perak yang rapi, menciptakan kesan modern namun tetap menyatu dengan elemen klasik masjid

Pagar pembatas ini dirancang dengan estetika Islami yang kuat, memadukan material logam stainless steel dan panel bermotif geometris. Motif yang digunakan berbentuk pola arabesque dengan komposisi simetris, membentuk jalinan persegi dan bintang yang saling terhubung. Motif ini bukan sekadar hiasan, tetapi mencerminkan nilai keteraturan dan keindahan dalam seni arsitektur Islam.

Konstruksi pagar terlihat kokoh dengan tiang-tiang penyangga berbahan logam mengkilap yang dipasang secara beraturan, menciptakan kesan modern dan bersih. Warna putih pada panel berpadu dengan lantai marmer berwarna krem dan abu-abu muda, menghasilkan harmoni visual yang lembut dan menenangkan.

Selain fungsi estetik, pagar ini berperan sebagai pembatas area untuk memastikan ketertiban sirkulasi jamaah. Desainnya tetap memungkinkan sirkulasi udara dan cahaya karena motifnya berlubang, sehingga area di sekitarnya tetap terasa lapang dan terang

Pagar pembatas memadukan material logam stainless steel dan panel bermotif geometris. Motif yang digunakan berbentuk pola arabesque


Menikmati Suasana Setelah Sholat Isya di Masjid

Komentar