MASJID JAMI' AL-ULA BALIKPAPAN


Letak

Alhamdulillah… pada tanggal 16 November 2016, saya ditugaskan oleh kantor untuk rapat di Kota Balikpapan. Disela-sela tugas seperti biasa saya mengunjungi masjid-masjid tua dikota itu. Setelah mencari informasi kali ini saya mengunjungi masjid Jami’ Al-Hula.

Letak Masjid Jami' Al-Ula yaitu di Jalan Jenderal Suprapto No 1 Kelurahan Baru Ulu, Balikpapan Barat, Kalimantan Timur. Tidak begitu sulit mencari masjid ini dengan bantuan GPS dan bertanya pada penduduk.

Setelah memarkirkan mobil, saya langsung ke dalam dan mencari tempat wudu. Setelah masuk ke dalam masjid terasa suasana yang sangat sakral sekali. Hati seolah bergetar, saya pun tidak tahu kenapa. Banyak orang yang lagi membac Al Quran mulai dari anak-anak sampai orang tua. Ada juga yang lagi khusuk berdoa. Sayapun melakukan sholat Magrib dan diam beberapa lama untuk menikmati suasana yang ada.



Sejarah

Masjid Jami’ Al-Ula berdiri pada masa penjajahan Belanda. Pada awalnya berdirinya masjid ini berupa mushola kecil dari kayu dan atap dari sirap. Mushola ini didirikan oleh para saudagar-saudagar Islam Banjarmasin Sulawesi Selatan yang berdaagang dan syiar Islam. Karena ini musholla ini berdiri dipinggir pantai perkampungan tua Kampung Baru, dimana kampung tersebut merupakan pusat perdagangan Kota Balikpapan tempo dulu. Banyak pedagang dan saudagar yang berasal dari luar daerah datang ke Balikpapan untuk berdagang.

Banyak keistimewaan- keistimewaan dari sejarah masjid ini. Pada saat Perang Dunia II Kampung Baru merupakan basis pertahanan pasukan Jepang. Pesawat Inggris mengincar basis pertahanan Jepang tersebut dan menjatuhkan bom persis di sebelah bangunan Masjid Al Ula. Namun anehnya, bom tersebut tidak meledak.

Pada tahun 1948 pernah terjadi kebakaran besar melanda Kampung Baru. Namum atas izin dan kebesaran Allah SWT, masjid tidak terbakar. Padahal bangunan lainnya yang berdempetan dengan rumah warga habis terbakar.

Pada tahun 1965 saat terjadi pemberontakan PKI, para simpatisan paham komunis menyerang dan membakar setiap rumah warga dan masjid. Kembali dengan seizin dan kekuasaan Allah SWT, masjid ini tidak terbakar. Justru barang-barang warga yang diungsikan ke halaman dan pelataran masjid yang terbakar.

Pada 1984 kembali terjadi kembakaran yang sangat besar dan menghanguskan ribuan rumah di dua kelurahan yaitu Kelurahan Baru Ulu dan Kelurahan Baru Tengah, namun masjid ini tetap kokoh dan tidak terbakar.

Arsitektur

Saat saya berkunjung masjid ini sedang dalam renovasi. Walaupun belum beres, kelihatannya bentuk masjid ini menyerupai Masjid Nabawi Madinah. Hal ini terlihat dari fasade yang memiliki bentuk dan langgam yang sama dengan masjid Nabawi. Bentuk fisik yang biasa diterapkan dalam sebuah bangunan seperti penggunaan pintu dan jendela, kubah, ornamen kaligrafi, dan sebagainya.








Komentar